Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bali » IBUDAYA FESTIVAL 2021 Mula ka Mula, Pulang Ke Rahim Bali Utara

IBUDAYA FESTIVAL 2021 Mula ka Mula, Pulang Ke Rahim Bali Utara

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 21 Okt 2021
  • visibility 172
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Denpasar, Kamis  21  Oktober  2021

 

IBUDAYA FESTIVAL 2021

Mula ka Mula, Pulang Ke Rahim Bali Utara

Ayu Laksmi, Konseptor dan Direktur Ibudaya Festival, Ayu Laksmi, Konseptor dan Direktur Ibudaya Festival, Kamis (21/10/2021).

 

Bali, indonesiaexpose.co.id  – Ibudaya Festival 2021 adalah festival perempuan  persembahan Dadisiki Bali yang digagas oleh Ayu Laksmi. Festival ini berada di bawah naungan Bali Wariga, dilaksanakan oleh Antida Music Production dan Matahari Bali Convex, dan didukung penuh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Festival akan berlangsung pada Minggu, 24 Oktober 2021 pukul 16.30 Wita dalam bentuk virtual event.

 

Jika ditelisik dari kata Ibudaya, terdapat 3 (tiga) rangkai kata yang terhubung di dalamnya, yaitu Ibu –perempuan, Daya –kemampuan, dan Budaya –kerja laku turun menurun yang diwariskan, kaitannya terhadap kearifan lokal. Jadi Ibudaya dapat dimaknai sebagai kemampuan ibu-perempuan untuk memelihara, merawat, menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam laku kebudayaan.

 

Ibudaya Festival mengusung tema Mula ka Mula. Mula dalam Bahasa Bali berarti menanam, Mula dalam Bahasa Indonesia artinya awal, sementara ka Mula  dapat dimaknai ke asal –ke akar. Secara garis besar Mula ka Mula ialah ajakan untuk pulang ke asal untuk menanam.

 

Jika dikaitkan dengan konteks pandemi yang sudah berjalan hampir 2 (dua) tahun ini, manusia dihadapkan dengan berbagai pilihan, utamanya mereka yang dulu meninggalkan rumah untuk mencari penghidupan ke suatu tempat, secara sadar dituntut pulang. Berhenti sejenak, merenung, menghayati, kemudian memulai kembali.

 

Dalam kepulangannya itu, mereka yang pulang akan berkeluh kesah kepada Ibu. Ibu yang memiliki rahim dalam tubuhnya merupakan asal kebermulaan kita semua.

 

Secara filosofi dapat dikatakan kita pulang ke rahim.

 

Kata rahim dalam Ibudaya Festival memiliki perluasan makna sebagai ruang,  yakni ruang penciptaan. Sejujurnya siapapun yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, apapun itu baik berupa ide, karya, cara berfikir dan lain sebagainya, dapat dikatakan memiliki rahimnya masing-masing (terlepas dari gender).

 

Pemikiran di atas tertuang dalam lirik lagu Brothers and Sisters karya Ayu Laksmi yang digunakan sebagai original soundtrack Ibudaya Festival 2021

 

Silih tunggil tindih

Ring Gumi Bali

Asih asuh trepti

Eling ring wit pertiwi

 

Lirik tersebut mengandung makna ajakan kepada kita semua, untuk selalu mengingat tanah kelahiran. Menjaga kesuciannya dalam kerja-kerja tulus ikhlas menyama braya.

 

Pulang ke Rahim – Bali Utara

Untuk “menanam” kembali, Ibudaya Festival menuntun kita untuk menengok ke Bali bagian utara, Buleleng. Buleleng memiliki sejarah panjang yang perlu dicermati untuk membaca Bali secara holistik. Satu diantaranya ialah karena nama besar Pelabuhan Buleleng pada masa kependudukan Belanda, Pelabuhan tersebut  menjadi pintu masuk utama jika ingin datang ke Bali. Keberadaannya yang strategis itu memberi peluang kepada orang luar untuk melakukan aktivitas perdagangan, mulai dari bangsa Eropa, China, Belanda, Arab, Bugis dan lain sebagainya.

 

Hiruk pikuk Pelabuhan Buleleng memiliki peran penting terhadap akulturasi kebudayaan yang terjadi di Buleleng terkait cara berpikir, bahasa tutur, kuliner, serta sistem sosio kulturalnya. Hingga pada periode 1950-1985 Buleleng menjadi ibu kota provinsi Sunda Kecil. Sunda Kecil meliputi Bali, Lombok, Bima, Flores, Timor (barat) dan Sumba serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.

 

Namun masa keemasannya mulai meredup saat Sunda Kecil dimekarkan menjadi tiga Provinsi – Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur,  serta  Ibu Kota Provinsi Bali dipindahkan,  dari Singaraja ke Denpasar tahun 1960. Maka segala hiruk pikuk yang terjadi secara tidak langsung berpindah ke Bali Selatan. Hal ini juga membawa dampak signifikan terhadap pembangunan. kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi orang Buleleng terasa bergerak lamban. Buleleng seolah ditinggalkan, waktu berhenti begitu saja di sana.

 

Bernaung pada pemahaman di atas, dengan penuh pertimbangan Ibudaya Festival menjadikan pusat semua kegiatannya di Bali Utara, dengan cara menyusur kembali ruang-ruang bersejarah, utamanya yang memancarkan energi spiritual. Lebih jauh ziarah tersebut memberi tawaran alternatif sebagai rujukan destinasi wisata spiritual di Buleleng. Beberapa tempatnya ialah rumah tua peninggalan Belanda, Bukit Ser, Brahmavihara Arama, Pelabuhan Buleleng, Pura Pulaki, Retreat Universal, Goa Maria Air Sanih, Pura Ponjok Batu, Pura Beji Sangsit, Pura Meduwe Karang dan  Pura Gambur Anglayang.

 

Menurut Ayu Laksmi, Konseptor dan Direktur Ibudaya Festival, kegiatan ini menjadi cermin kasih seorang Ibu dalam menjaga tradisi yang luhur, termasuk tempat atau destinasi yang memiliki nilai sejarah di Buleleng. Gerakan ini masih kecil namun harus digaungkan secara perlahan agar semua orang tahu, bahwa Buleleng memiliki sejarah menarik yang semestinya menjadi rujukan penting untuk membangun Bali.

 

“Dari Ibu kita merawat Bali, dari Buleleng kita merawat negeri” ujar Ayu Laksmi di acara Konferensi Pers Konferens Ibudaya Festival 2021 bea zoom, Denpasar, Kamis (21/10/2021).

 

Perempuan-Perempuan Mencipta 

Kegiatan Ibudaya Festival berupa Selebrasi Budaya dan Gelar Wicara  dilaksanakan secara virtual berpusat di Rumah Tua Peninggalan Belanda Buleleng. Kedua mata acara tersebut sepenuhnya melibatkan perempuan-perempuan yang mendedikasikan hidupnya pada disiplin ilmu masing-masing.

 

Selebrasi Ibudaya disajikan dalam bentuk video art –pertunjukan dengan narasi, bahasa gambar yang puitik tanpa terlepas dari penggalian nilai-nilai budaya dalam semangat spiritual seorang perempuan. Selebrasi Ibudaya menampilkan pertunjukan tradisi dan kontemporer berupa musik, sastra, tari dan teater.

 

Adapun para seniman penyaji antara lain Ni Luh Menek, Cok Sawitri, Ida Ayu Wayan Arya Setyani, Aryani Willems, Nyoman Tini Wahyuni, Heny Janawati, Echa Laksmi, Ida Ayu Nyoman Dyana Pani, Jasmine Okubo, Pranita Dewi, Alien Child, I Gusti Ayu Kusumayuni, Sanggar Seni Palwaswari, Ni Nyoman Srayamurtikanti, Komunitas Mahima, Ipung Dancer, serta Womb Ibudaya beranggotakan Aik Krisnayanti, Sagung Novi, Claudia, Ida Ayu Wisanti, Ni Ketut Fenty, Jesica Winanda Leksono Putri, Kharissa Sadha, Maria Murwiki, Monique Anastasia Tindage.

 

Sementara Gelar Wicara disajikan dengan acara diskusi kontemplatif oleh spiritualis perempuan, pakar ilmu medis, psikolog, pelaku pariwisata dan inisiator perempuan di berbagai bidang. Diskusi ini diharapkan merangsang kerja kolektif  dan menumbuhkan keinginan untuk bergerak dalam satu semangat bersama.

 

Adapun narasumber tersebut adalah Sandrina Malakiano, Ayu Weda, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SPA., MARS, dr. Luh Karunia Wahyuni, SP.KFR-K, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, Ana Anandi dan Luh Manis.

 

Satu diantara penyaji Selebrasi Budaya yang terlibat ialah Jasmine Okubo koreografer asal Jepang yang  telah lama berkarya di Bali. Ia mementaskan satu repertoar tari di Bukit Ser Buleleng berjudul Arecaceae. Karya tersebut mengangkat filosofi pohon kelapa yang erat hubungannya dengan kegiatan budaya orang Bali.

 

“Bagiku pohon kelapa itu kehidupan, sangat pas aku bawakan di Bukit Ser karena dulunya itu situs pemukiman,” ujar Jasmine Okubo saat tim Ibudaya Festival melaksanakan perekaman visual.

 

Baginya Bukit Ser yang gersang, tandus dan panas menyimpan berbagai kisah  kehidupan. Sebab dulunya, Bukit Ser merupakan pelabuhan yang cukup strategis. Banyak pedagang dari luar Bali datang untuk menjajakan barangnya, lambat laun terciptalah suatu akulturasi kebudayaan diimbangi dengan tumbuhnya  pemukiman di sekitar area pelabuhan. Namun hal itu telah sirna, hanya dapat dilacak melalui temuan-temuan arkeologi yang tersebar di beberapa situs.

 

Dalam konsep dasar itu, Jasmine mencoba merangkai kehidupan di Bukit Ser, mengumpulkan berbagai energi ruang, menziarahi setiap jejaknya, meresapi pesan-pesan yang berhembus oleh angin. Terciptalah satu peristiwa pertunjukan tari yang syahdu diantara celah pohon-pohon tua yang tumbuh di Bukit Ser.

 

Keberlangsungan Ibudaya Festival 2021 didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Dadisiki Bali, Antida Music Production, Matahari Bali Convex, Kitapoleng Bali, Svara Semesta, Klinik dr Tiwi.com, IWMS (Indonesia World Music Series) dan tatkala.co

(080)

 

 

  • Penulis: Admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Percepat Cakupan Vaksinasi Covid -19 di Tingkat Desa/Kelurahan. Desa Dauh Puri Kangin Sisir Warga Yang Belum Vaksinasi Dosis II 

    Percepat Cakupan Vaksinasi Covid -19 di Tingkat Desa/Kelurahan. Desa Dauh Puri Kangin Sisir Warga Yang Belum Vaksinasi Dosis II 

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2021
    • account_circle Admin
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Bali,  Selasa 16 November 2021   Percepat Cakupan Vaksinasi Covid -19 di Tingkat Desa/Kelurahan. Desa Dauh Puri Kangin Sisir Warga Yang Belum Vaksinasi Dosis II     Bali,  indonesiaexpose.co.id   – Percepatan Cakupan Vaksinasi COVID-19 terus digencarkan oleh Pemkot Denpasar guna optimalisasi penanganan pandemi Covid-19 di Kota Denpasar menyasar seluruh tingkatan masyarakat. Seperti pelaksanaan vaksinasi dosis […]

  • Unsur Konsolidasi dan Rekonsiliasi dalam kepengurusan DPD I Golkar Bali periode 2020-2025

    Unsur Konsolidasi dan Rekonsiliasi dalam kepengurusan DPD I Golkar Bali periode 2020-2025

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Denpasar, Senin  09  Maret  2020   Unsur Konsolidasi dan Rekonsiliasi dalam kepengurusan DPD I Golkar Bali periode 2020-2025 Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Bali  Dr.I Nyoman Sugawa Korry (tengah),  I Wayan Muntra, selaku Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM (pojok kanan) dan D.A.P.Sri Wigunawati (pojok kiri),di Kantor DPD Partai Golkar Bali, Senin (9/3/2020).(Foto/indonesiaexpose.co.id/078)   […]

  • Menkeu: UU HPP Upaya Optimalkan Penerimaan Negara yang Berkeadilan

    Menkeu: UU HPP Upaya Optimalkan Penerimaan Negara yang Berkeadilan

    • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
    • account_circle Admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Jakarta, Selasa  12  Oktober  2021   Menkeu: UU HPP Upaya Optimalkan Penerimaan Negara yang Berkeadilan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati (Foto/Ist)   Jakarta,  indonesiaexpose.co.id  –  Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) menjadi salah satu tonggak bersejarah reformasi perpajakan yang menjadi bagian dari reformasi struktural untuk mencapai Indonesia Maju melalui fondasi sistem perpajakan yang adil, […]

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Rabu 22  April  2020

  • Jadikan Sarana Edukasi dan Penggerak Ekonomi Masyarakat, Ribuan Benih Lele Dibudidayakan Dengan Metode Bioflok di Tukad Bindu

    Jadikan Sarana Edukasi dan Penggerak Ekonomi Masyarakat, Ribuan Benih Lele Dibudidayakan Dengan Metode Bioflok di Tukad Bindu

    • calendar_month Jumat, 29 Nov 2019
    • account_circle Admin
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Denpasar, Jumat  29  November  2019     Jadikan Sarana Edukasi dan Penggerak Ekonomi Masyarakat, Ribuan Benih Lele Dibudidayakan Dengan Metode Bioflok di Tukad Bindu     Kelompok Usaha Tani Yayasan Tukad Bindu mendapat bantuan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Mandiangin, Kalimantan Selatan dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun area budidaya ikan […]

    • calendar_month Selasa, 4 Okt 2022
    • account_circle Admin
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Bali, Selasa  04  Oktober  2022

expand_less