Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bali » Makna  Galungan dan  Lahirnya  Tri  Sadaka

Makna  Galungan dan  Lahirnya  Tri  Sadaka

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 7 Jun 2023
  • visibility 248
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gianyar, Kamis  08  Juni  2023

Makna  Galungan dan  Lahirnya Tri  Sadaka

 

Foto Ida Bagus Rai Djendra

 

Bali,  indonesiaexpose.co.id  –  Dua bulan lagi, tepatnya tanggal 2 Agustus 2023, umat Hindu merayakan hari raya Galungan. Umum mengetahui perayaan ini sebagai simbul kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun tidak banyak umum tahu sejak Kapan “Hari Raya GALUNGAN” DI RAYAKAN…???

Untuk menjawab pertanyaan ini, wartawan Indonesiaexpose.co.Id, mendatangi Gerya Gede Kawan Gianyar, bertemu dengan Ida Bagus Rai Djendra atau sering dipanggil Kakyang Rai.

Kakyang Rai menjelaskan, menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan :

“Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”. Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama kali adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali saat itu digambarkan bagaikan di Indra Loka.

Masih menurut Kakyang Rai, sejak saat itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali dengan meriah. Namun setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba – tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan.

Lebih lanjut dijelaskan, Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti – henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan oleh Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu.

Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat – pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih.

Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan.
Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali melaksanakan perayaan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).

Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Kakyang Rai memberi catatan, sebagai bahan pertimbangan tambahan untuk pemahaman makna dari perayaan Hari Raya Galungan. Sesuai penelitian yang dilakukan dan tutur ceritra turun temurun para orang tua menunjukkan bahwa para leluhur kita di jaman masyarakat Bali Kuno sebelum kedatangan Resi Markendya sekitar abad ke 6 _ 7 masehi , telah melaksanakan perayaan hari raya Galungan dalam bentuk yang masih sangat sederhana sebagai wujud penghormatan serta matur suksme terhadap para leluhur.

Galungan atau ngegalung yang dapat diartikan bersenang2/ bergembira dilakukan setiap 6 bulan sekali (7 bulan kalender) setelah musim panen. Kenapa dilakukan 6 bulan sekali?

Karena dijaman itu mayoritas masyarakat Bali hidup sebagai petani dan peternak, dimana benih padi yang ditanam baru bisa dipanen setelah berumur 6 bulan demikian pula terhadap ternak babi yang dipelihara dari kucit butuh waktu setelah 6 bulan menjadi celeng yang siap dipotong. Jadi perayaan Galungan ditradisikan dilaksanakan setiap 6 bulan Bali sekali sebagai bentuk matur suksme serta penghormatan kepada para leluhur yang diyakini karena beliaulah kita bisa berhasil.

Dari makna perayaan galungan untuk penghormatan para leluhur berkembanglah/bertambah ke pemujaan -pemujaan banyak aliran/sekte yang dibawa serta oleh para pengikut Resi Markendya yang datang sekitar abad ke 6 – 7 Masehi. Sekte2 utama sebanyak 9 sampradaya pada waktu itu : Siwa Sidhanta, Pasupate, Bhairawa, Wesnawa, Budha Saugatha, Brahmana, Resi, Sora dan Ganapatya. Nah setelah kedatangan Empu Kuturan sekitar abad ke 10 , dileburlah sekte2 itu menjadi Tri Sadaka yaitu Siwa, Buda dan Waisnawa.

Empu Kuturan mulai memperkenalkan konsep pemujaan Trimurti di Kayangan Tiga sebagai wujud kebersamaan dalam masyarakat disetiap desa : di Pure Desa di puja Brahma, di Pure Puseh dipuja Wisnu dan di Pure Dalem dipuja Siwa (Durgha Sakti Siwa). Selanjutnya di era kedatangan Danghyang Dwijendra pada masa kejayaan kerajaan Gelgel dibawah Raja Watu Renggong , perayaan Hari Raya Galungan mendapatkan makna/dimaknai secara lebih luas bersifat Hindhu Universal sebagai Kemenangan Dharma melawan Adharma layaknya seperti perayaan Divali di India.

Kedatangan Danghyang Dwidjendra/ Danghyang Nirarthe memang membawa pengaruh besar di masyarakat Bali, terutama dengan konsep penyatuan Siwa Budha serta pemujaan Padma Sana sebagai simbul alam semesta linggihnya Siwa Budha.

Untuk pemberian makna yang lebih universal Hindhu terhadap Hari Raya Galungan sebagai Kemenangan Dharma melawan Adharma maka disusunlah kisah pertempuran Betara Indra simbul Dharma melawan Raja Mayadenawa simbul Adharma, mirip pertempuran Sri Rama melawan Raja Rahwana dimana kembalinya Sitha dirayakan sebagai Divali di India dan demikian pula seperti kisah Mahabaratha pertempuran Pandawa simbul Dharma melawan Kurawa simbul Adharma. Jadi di Bali masyarakat kita memahami makna perayaan hari raya Galungan sampai sekarang sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma.
Semoga Bali tetap ajeg, tentram dan damai, tutup Kakyang Rai.

(072)

  • Penulis: Admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Program Undian “AXISNet Super Sureprize”  Beli Produk AXIS di Aplikasi AXISNet Bisa Raih Banyak Hadiah

    Program Undian “AXISNet Super Sureprize” Beli Produk AXIS di Aplikasi AXISNet Bisa Raih Banyak Hadiah

    • calendar_month Selasa, 26 Okt 2021
    • account_circle Admin
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Jakarta, Selasa  26  Oktober  2021 Program Undian “AXISNet Super Sureprize” Beli Produk AXIS di Aplikasi AXISNet Bisa Raih Banyak Hadiah       Setiap pelanggan AXIS yang membeli produk internet di aplikasi AXISNet atau voucher AIGO memiliki kesempatan untuk mengikuti undian berhadiah “AXISNet Super Sureprize”. Sejak diluncurkan pada November 2019 lalu, hingga saat ini sudah […]

  • Presiden Jokowi Dorong Pengembangan Investasi Industri Pertahanan di Tanah Air

    Presiden Jokowi Dorong Pengembangan Investasi Industri Pertahanan di Tanah Air

    • calendar_month Kamis, 5 Okt 2023
    • account_circle Admin
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Jakarta, Kamis  05  Oktober  2023 Presiden Jokowi Dorong Pengembangan Investasi Industri Pertahanan di Tanah Air   Foto: BPMI Setpres Jakarta,  indonesiaexpose.co.id  –  Presiden Joko Widodo mendorong modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk menjadi bagian penting dari pengembangan investasi industri pertahanan di Tanah Air. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam amanatnya saat memimpin Upacara Peringatan […]

  • Walikota Jaya Negara : Guru Garda Terdepan Pencegahan Penyebaran Covid-19 saat PTM Terbatas

    Walikota Jaya Negara : Guru Garda Terdepan Pencegahan Penyebaran Covid-19 saat PTM Terbatas

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2021
    • account_circle Admin
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Denpasar, Kamis  25  November 2021   Walikota Jaya Negara : Guru Garda Terdepan Pencegahan Penyebaran Covid-19 saat PTM Terbatas   Bali,  indonesiaexpose.co.id   – Guru Garda terdepan pencegahan penyebaran Covid-19 saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Hal ini disampaikan Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara pada Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) […]

  • Gerakan Pangan Murah BUMD Jateng Peduli Inflasi Digelar, Masyarakat Tegal Sambut Antusias

    Gerakan Pangan Murah BUMD Jateng Peduli Inflasi Digelar, Masyarakat Tegal Sambut Antusias

    • calendar_month Sabtu, 21 Okt 2023
    • account_circle Admin
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Tegal, Sabtu  21  Oktober 2023 Gerakan Pangan Murah BUMD Jateng Peduli Inflasi Digelar, Masyarakat Tegal Sambut Antusias     Jawa  Tengah,  indonesiaexpose.co.id  – Masyarakat Kabupaten Tegal, khususnya di Kecamatan Talang, berduyun-duyun menuju kantor kecamatan setempat, Jumat (20/10/2023). Mereka hendak berbelanja pada kegiatan Gerakan Pangan Murah BUMD Jateng Peduli Inflasi. Berdasar pantauan di lokasi, sejak pagi […]

  • Ditreskrimum Polda Metro Jaya Bekuk Tersangka Pencemaran Nama Baik  Rektor Unima

    Ditreskrimum Polda Metro Jaya Bekuk Tersangka Pencemaran Nama Baik  Rektor Unima

    • calendar_month Sabtu, 22 Feb 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Jakarta , Sabtu  20  Pebruari  2020   Ditreskrimum Polda Metro Jaya Bekuk Tersangka Pencemaran Nama Baik  Rektor Unima (Foto/ist) JAKARTA,  INDEX   – Polda Metro Jaya  menagkap dua orang, masing-masing  berinisial FJR dan JSR yang diduga mencemarkan nama baik Rektor  Universitas  Negeri  Manado  (UNIMA) Prof. Dr. Julyeta Paulina Amalia Runtuwene.   Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri […]

  • Tarif Listrik Tidak Naik, PLN Jawab Keluhan Naiknya Tagihan Listrik Warga

    Tarif Listrik Tidak Naik, PLN Jawab Keluhan Naiknya Tagihan Listrik Warga

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Jakarta, Rabu  6 Mei 2020   Tarif Listrik Tidak Naik, PLN Jawab Keluhan Naiknya Tagihan Listrik Warga     JAKARTA,  INDEX  –  PLN menanggapi serius isu lonjakan tagihan listrik yang dialami oleh sebagian warga menyusul diberlakukannya PSBB akibat pandemi virus corona atau covid-19. Adanya peningkatan tagihan rekening listrik bulan April disebabkan karena adanya selisih tagihan […]

expand_less