Di Tengah Tekanan Global, Stabilitas Jasa Keuangan Bali Tetap Terjaga
- account_circle 002
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Rabu 25 Pebruari 2026
Di Tengah Tekanan Global, Stabilitas Jasa Keuangan Bali Tetap Terjaga

Bali , indonesiaexpose.co.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali memastikan stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali tetap terjaga hingga Desember 2025, di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
“Kami menilai stabilitas IJK di Provinsi Bali sampai dengan posisi Desember 2025 tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Hal ini tercermin dari fungsi intermediasi berjalan baik, profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai,” kata Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu di Denpasar, pada Senin, 23 Februari 2026 malam.
Kondisi tersebut tercermin dari fungsi intermediasi yang berjalan baik, profil risiko yang terkendali, serta likuiditas yang memadai. Stabilitas sektor keuangan itu turut menopang pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 5,82 persen (year on year/yoy) sepanjang 2025, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen.
Di sektor perbankan, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,73 persen yoy menjadi Rp119,87 triliun. Sementara kredit berdasarkan lokasi proyek naik 7,18 persen yoy menjadi Rp144,49 triliun. Pertumbuhan kredit terutama ditopang kredit investasi yang meningkat 16,21 persen yoy, terutama pada sektor akomodasi, makan minum, dan real estat.
Kredit konsumsi tumbuh 4,69 persen yoy, sedangkan kredit modal kerja relatif stabil di 0,09 persen yoy. Sebanyak 51,11 persen kredit disalurkan kepada UMKM, dengan pertumbuhan 3,91 persen yoy—lebih tinggi dibanding rata-rata nasional dari sisi porsi maupun pertumbuhan.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,49 persen yoy menjadi Rp203,97 triliun, didorong kenaikan tabungan. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 58,60 persen.
Kualitas kredit juga membaik. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun menjadi 2,44 persen dan NPL net menjadi 1,68 persen. Rasio Loan at Risk (LaR) turut menurun ke level 9,12 persen.
Di sektor pasar modal, jumlah investor di Bali mencapai 359.262 Single Investor Identification (SID), tumbuh 22,69 persen yoy. Nilai kepemilikan saham tercatat Rp7,69 triliun atau naik 47,39 persen yoy, sementara nilai transaksi saham mencapai Rp6,78 triliun, tumbuh 72,49 persen yoy.
Untuk industri pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan tercatat Rp12,16 triliun atau tumbuh 2,39 persen yoy dengan rasio Non Performing Financing (NPF) 1,31 persen. Penyaluran fintech peer to peer lending tumbuh 40,59 persen yoy menjadi Rp2,10 triliun, dengan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) sebesar 2,13 persen yang masih dalam batas terkendali.
Sepanjang 2025, OJK Provinsi Bali juga menggencarkan literasi dan inklusi keuangan melalui 11.922 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 925 ribu peserta. Selain itu, tercatat 784 pengaduan konsumen diterima hingga Desember 2025, dengan mayoritas terkait perilaku penagihan dan dugaan fraud.
OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan, perlindungan konsumen, dan sinergi dengan pemerintah daerah serta otoritas terkait guna menjaga sektor jasa keuangan tetap stabil dan berkelanjutan pada 2026.
Masyarakat juga diimbau mewaspadai investasi ilegal dan memastikan prinsip “legal dan logis” sebelum memilih produk keuangan.
(112)
- Penulis: 002
- Editor: putri
- Sumber: tim Index
