Alarm Bali! Gedung 45 Meter di Serangan Disebut Bisa Picu Krisis Air dan Sampah
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Selasa 23 Juni 2026
Alarm Bali! Gedung 45 Meter di Serangan Disebut Bisa Picu Krisis Air dan Sampah

Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si.,
Bali, indonesiaexpose.co.id — Wacana pembangunan gedung komersial setinggi 45 meter di Bali memunculkan peringatan serius dari kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan. Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si., menyebut dampak proyek tersebut berpotensi setara dengan lahirnya sebuah kota baru berpenduduk hampir setengah juta orang.
Dalam kajian awal berbasis simulasi teknis, Jondra menggunakan asumsi pembangunan gedung setinggi 45 meter di atas 10 persen lahan reklamasi Pulau Serangan. Hasilnya, luas total lantai bangunan diperkirakan mencapai sekitar 5,65 juta meter persegi dengan kapasitas aktivitas mencapai 471.250 orang.
“Ini bukan lagi skala sebuah gedung biasa. Dampaknya setara sebuah kota baru sehingga harus dikaji sangat hati-hati berdasarkan daya dukung Bali,” tegas Jondra.
Menurutnya, kebutuhan listrik kawasan tersebut diperkirakan mencapai 565 megawatt, atau sekitar tiga kali kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggaran. Sementara kebutuhan air bersih diproyeksikan mencapai 94.250 meter kubik per hari atau sekitar 1.090 liter per detik.
Pertanyaan besar pun muncul mengenai sumber pasokan air.
“Airnya dari mana? Apakah dari Danau Batur atau Danau Beratan? Apakah danau-danau itu mampu menyuplai kebutuhan sebesar itu?” ujarnya.
Tak hanya itu, air limbah yang dihasilkan diperkirakan mencapai lebih dari 80 ribu meter kubik per hari, sehingga membutuhkan instalasi pengolahan limbah dengan kapasitas sekitar dua kali lebih besar dari IPAL Suwung.
Dari sisi lingkungan, emisi karbon tahunan diprediksi mencapai 4,64 juta ton CO₂. Untuk menyerap emisi tersebut secara alami, dibutuhkan sekitar 415 ribu hektare hutan tropis, atau hampir 80 persen luas daratan Pulau Bali.
Persoalan lain yang disoroti adalah timbulan sampah. Dengan asumsi produksi sampah satu kilogram per orang per hari, kawasan itu diperkirakan menghasilkan sekitar 471 ton sampah setiap hari.
“Mau dibuang ke mana sampah sebanyak itu? Ini belum menghitung persoalan transportasi, kependudukan, keamanan, sosial, budaya, dan agama,” kata Jondra.
Ia menegaskan, seluruh angka tersebut masih berupa simulasi awal yang membutuhkan penelitian lebih mendalam oleh para ahli. Namun hasil sementara itu dinilai cukup untuk menjadi alarm bahwa pembangunan gedung tinggi di Bali, termasuk di Pulau Serangan maupun kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, tidak boleh diputuskan tanpa kajian komprehensif.
“Bali harus berhitung dengan sabar. Jangan sampai pembangunan justru melampaui kemampuan pulau ini untuk menopangnya,” pungkasnya.
(080)
- Penulis: Admin
