Pemerintah Siapkan Pusat Keuangan Internasional di Bali, Prof. Salain: Jangan Korbankan Daya Tampung Alam Demi Investasi
- account_circle 002
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Sabtu 25 Juli 2026
Pemerintah Siapkan Pusat Keuangan Internasional di Bali, Prof. Salain: Jangan Korbankan Daya Tampung Alam Demi Investasi

Bali, indonesiaexpose.co.id — Rencana pemerintah membangun Pusat Keuangan Internasional (International Financial Center/IFC) di Bali menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi. Di tengah persiapan pemerintah menyusun Peraturan Pemerintah (PP) sebagai landasan hukum proyek tersebut, Guru Besar Unud Soroti Tata Ruang Bali, Ingatkan Ancaman Hilangnya Ruang Hidup Generasi Mendatang.
Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., mengingatkan agar ambisi investasi tidak mengorbankan daya dukung lingkungan dan masa depan Pulau Dewata.
Menurut Prof. Salain, pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi wajib menghitung secara ilmiah kemampuan alam Bali dalam menerima tambahan beban pembangunan.
“Persoalannya bukan sekadar berapa besar keuntungan ekonomi yang diperoleh. Pertanyaan utamanya, berapa daya tampung Bali? Setelah itu, bagaimana daya lenting lingkungan kita untuk pulih ketika menerima tekanan pembangunan?” tegasnya.
Ia menilai konsep daya lenting lingkungan selama ini nyaris tidak pernah dijadikan indikator utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Akibatnya, berbagai aktivitas ekonomi terus bertambah tanpa diimbangi perhitungan mengenai akumulasi dampak terhadap lingkungan.
“Bali Bukan Ruang Tanpa Batas”
Prof. Salain mencontohkan fenomena sederhana yang selama ini luput dari perhatian pemerintah, yakni menjamurnya usaha laundry di berbagai wilayah Bali.
Menurutnya, hampir tidak pernah ada evaluasi mengenai ke mana limbah cair, deterjen, pewarna, maupun bahan kimia dari ribuan usaha tersebut bermuara.
“Siapa yang menghitung limbah itu dibuang ke mana? Siapa yang mengawasi? Semua aktivitas ekonomi menambah beban lingkungan, tetapi jarang dihitung secara serius,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap proyek besar akan menambah tekanan terhadap lingkungan apabila tidak didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif.
Pertanyakan Urgensi IFC di Bali
Prof. Salain juga mempertanyakan urgensi pembangunan kawasan fisik untuk Pusat Keuangan Internasional di era digital.
Menurutnya, transaksi keuangan modern pada dasarnya telah berlangsung secara elektronik dan tidak selalu membutuhkan pembangunan kawasan baru yang berpotensi mengubah bentang ruang Bali.
“Saya masih belum memahami secara utuh konsep yang akan diterapkan. Dubai berbeda, Singapura berbeda, Jakarta berbeda. Bali juga memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Karena itu jangan terburu-buru mengambil keputusan sebelum kajiannya benar-benar matang,” katanya.
Ia menegaskan, sebelum pemerintah membangun proyek berskala besar, masyarakat harus memperoleh penjelasan yang transparan mengenai bentuk pembangunan, kebutuhan ruang, manfaat ekonomi, hingga dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial budaya Bali.
Kajian Ilmiah Harus Didahulukan
Prof. Salain mengingatkan bahwa pembangunan yang hanya berorientasi pada investasi tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di masa depan.
Menurutnya, setiap kebijakan strategis harus berlandaskan kajian ilmiah yang objektif, bukan semata-mata didorong oleh target investasi.
“Yang paling penting adalah menjaga Bali. Alamnya harus dilindungi, budayanya harus diamankan, dan setiap pembangunan wajib berpihak pada kepentingan jangka panjang masyarakat Bali, bukan hanya kepentingan ekonomi sesaat,” pungkasnya.
Pernyataan Prof. Salain menambah daftar kritik terhadap rencana pembangunan Pusat Keuangan Internasional di Bali. Di tengah upaya pemerintah mempercepat proyek strategis tersebut melalui penyusunan Peraturan Pemerintah, publik kini menanti apakah aspek lingkungan, budaya, dan daya tampung Pulau Dewata benar-benar akan menjadi prioritas, atau justru kembali dikalahkan oleh ambisi investasi.
(002)
- Penulis: 002
- Editor: si
- Sumber: tim Index
