DARI BALI UNTUK DUNIA : Baba Bageshwar Dham dan DPRD Bali Bicara Spiritualitas, Toleransi hingga Ashram Internasional
- account_circle 080
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mangupura, Senin 10 Agustus 2026
DARI BALI UNTUK DUNIA : Baba Bageshwar Dham dan DPRD Bali Bicara Spiritualitas, Toleransi hingga Ashram Internasional
Bali, indonesiaexpose.co.id — Bali kembali menjadi perhatian dunia, bukan hanya sebagai destinasi wisata dan investasi, tetapi juga sebagai salah satu pusat spiritual internasional.
Kehadiran tokoh spiritual asal India, Dhirendra Krishna Shastri atau yang dikenal sebagai Baba Bageshwar Dham, dalam kegiatan Urja Sanchay Shivir Bageshwar Dham di Hotel InterContinental Bali, Badung, 7–10 Agustus 2026, menghadirkan warna baru dalam perkembangan pariwisata budaya dan spiritual Bali.
Mengusung tema “Awaken Your Inner Energy – Experience Divine Transformation”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk mengikuti meditasi, penguatan energi batin, refleksi spiritual, hingga pengalaman lintas budaya yang mempertemukan nuansa spiritual India dengan kekayaan budaya Bali.
Turut hadir dalam acara tersebut , Sekretaris PANSUS TRAP DPRD Bali I Dewa Nyoaman Rai, S.H.,M.H, Dr.Somvir Ketua Fraksi Nasdem – Demokrat DPRD Bali, tokoh spiritual asal India, Dhirendra Krishna Shastri atau yang dikenal sebagai Baba Bageshwar Dham, bersama rombongan, serta perwakilan komunitas spiritual dari sekitar 12 negara. Sejumlah negara yang disebut hadir antara lain India, Australia, Selandia Baru, Fiji, Inggris dan negara lainnya.
I Dewa Nyoman Rai, S.H.,M.H., yang juga Wakil Ketua Komisi I DPRD Bali, mengungkapkan rasa syukurnya setelah dapat bertemu langsung dan melakukan meditasi bersama Baba Bageshwar Dham. Ia menceritakan bahwa sosok spiritual tersebut sebelumnya telah muncul dalam pengalaman meditasinya.
Menurut Dewa Rai, pertemuan tersebut terasa istimewa karena terjadi di Bali, sebuah pulau yang memiliki hubungan sejarah panjang dengan tradisi spiritual India.
Ia mengaitkan perjalanan spiritual Bali dengan keberadaan tokoh-tokoh suci dari India, termasuk Maharishi Markandeya dan tokoh spiritual lainnya yang memiliki tempat penting dalam sejarah perkembangan Hindu di Bali.
” Kedatangan Baba Bageshwar Dham bukan sekadar kunjungan seorang tokoh spiritual. Momentum tersebut dinilai dapat membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas antara Bali dan India dalam bidang spiritual, budaya, pendidikan, hingga pariwisata,” terangnya.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah kemungkinan menghadirkan ashram atau pusat meditasi spiritual di Bali.
Pusat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi umat Hindu dan komunitas spiritual dari berbagai negara untuk datang ke Bali, melakukan meditasi, yoga, sadhana, serta memperdalam perjalanan spiritual.
Dewa Rai juga mengajak komunitas internasional untuk tidak hanya mengenal kawasan Bali Selatan, tetapi turut melihat potensi Bali Utara. Ia menyebut wilayah Bali Utara memiliki alam, budaya dan suasana yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan spiritual.
Menurutnya, banyak wisatawan yang datang ke Bali merasakan atmosfer yang berbeda. Bali dinilai memiliki aura positif yang membuat orang tidak hanya ingin datang, tetapi juga ingin kembali.
Sementara Dr. Somvir menegaskan, Bali dan India Bukan Sekadar Sahabat, tetapi Saudara.
Lima Salam, Pesan Toleransi dari Bali untuk Dunia :
- Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh : umat Muslim
- Om Swastiastu : umat Hindu
- Namo Buddhaya : umat Buddha.
- Salam Sejahtera dan Shalom : umat Kristen
- Salam Kebajikan (Wei De Dong Tian) : Khonghucu
Dr.Somvir Ketua Fraksi Nasdem – Demokrat DPRD Bali menegaskan, mengenai lima salam yang di ucapkan di Indonesia mencerminkan keberagaman dan toleransi masyarakat Indonesia, ketika berada di Bali, masyarakat mengenal dan menggunakan salam “Om Swastiastu”, sebagai salam yang sangat lekat dengan tradisi Hindu Bali.
Kemudian terdapat “Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, salam umat Islam yang mencerminkan penghormatan kepada masyarakat Muslim.
Berikutnya “Namo Buddhaya”, salam dalam tradisi umat Buddha.
Somvir juga menyebut salam yang berkaitan dengan Krishna, serta “Salam Sejahtera” sebagai bagian dari keberagaman salam yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Bagi Somvir, keberagaman tersebut merupakan kekuatan, bukan kelemahan.
Ia mencontohkan, ketika seorang pejabat atau tamu datang ke Bali, salam “Om Swastiastu” digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan masyarakat Bali. Sebaliknya, ketika berada di Jakarta atau daerah lain, penggunaan salam yang sesuai dengan konteks masyarakat setempat juga merupakan bentuk penghormatan.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan agama dan budaya tidak harus menjadi sekat.
Justru melalui salam, manusia dapat membuka percakapan, membangun penghormatan, dan memperkuat persaudaraan.
Dan di lingkungan DPRD Bali, Somvir menyebut setiap persidangan juga memiliki penutup yang sarat makna:
“Om Shanti Shanti Shanti Om.”
Pesan kedamaian tersebut menjadi penutup yang sejalan dengan semangat kegiatan spiritual Bageshwar Dham.
Yoga, Kebahagiaan dan Kehidupan yang Tidak Berorientasi Materi.
(080)
- Penulis: 080
- Editor: putri
- Sumber: tim Index
