Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bali » Bersama Ida Shrii Bhraja Ganaachakra Mencari Solusi Upacara Biaya Mahal Bagi Umat Kurang Mampu

Bersama Ida Shrii Bhraja Ganaachakra Mencari Solusi Upacara Biaya Mahal Bagi Umat Kurang Mampu

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 23 Jul 2022
  • visibility 237
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Denpasar, Sabtu 23 Juli 2022

Bersama Ida Shrii Bhraja Ganaachakra
Mencari Solusi Upacara Biaya Mahal Bagi Umat Kurang Mampu

 

(Foto/ist)

 

Bali,  indonesiaexpose.co.id  –  Ida Shrii Bhraja Ganaachakra termasuk sosok sulinggih yang berani melawan arus. Sebagai respon atas masalah umat Hindu, beliau berani membuat terobosan yang sangat berarti bagi umat yang tidak mampu untuk melakukan upacara keagamaan karena keterbatasan dana. Ini berawal dari pengalaman pahit beliau sendiri saat upacara pengabenan Ayahanda tercinta. Sebagai wujud pemberontakan, beliau sempat beralih keyakinan, namun kembali kedalam pangkuan Dharma semenjak bertemu seorang Guru Spiritual.

Didiksa sebagai Sulinggih pada tahun 2015, sekitar tahun 2018, Ida Shrii Bhraja Ganaachakra sempat membuat Surat terbuka untuk Ketua Umum PHDI Pusat, terkait mahalnya biaya upacara. Saat konflik antar Hindu Tradisional Ritualistik versus Hindu Universal Humanis, beliau juga berkirim surat langsung kepada Presiden Jokowi, tertanggal 17 Agustus 2021, perihal Pengusiran Aliran Hindu.

“Solusi kesederhanaan upacara hanya bisa DIMULAI DAN DIBERIKAN CONTOH oleh para pemuka agama mulai dari Pandita, Pinandita, pengurus pura / organisasi keumatan dan para pejabat / publik figur. Banyak sekali susastra Veda yang memberikan berbagai pilihan di dalam menjalankan upacara-upacara tradisi Veda”, ujar Ida Shrii Bhraja Ganaachakra saat di temui di Denpasar, Sabtu (23/7/2022).

Menurutnya, di Lombok sudah ada terobosan yang sangat baik dan berani dari seorang Pedanda yakni Ida Pedanda Gde Puja (Grya Gunung Sari) yang berkenan menyelesaikan Ngaben dengan biaya 3 juta saja dan seorang Mpu yakni Ida Pandita Mpu Mas Suyasa (Grya Taman Emas) dengan banten Ngaben 1,5 juta saja.

“Selama ini para pemuka agama (apalagi umat) takut bahkan dihindari untuk berupacara pada tingkatan KANISTA karena KETIDAKTAHUAN dan MULE KETO akibat dari gelapnya jalan beragama tanpa diterangi PENGETAHUAN/VEDA. Generasi muda dilarang untuk bertanya karena mule keto dari dulu harus dilaksanakan tanpa boleh ada pertanyaan apapun apalagi sanggahan, ”paparnya.

Ida Shrii mengungkap, bahwa sejatinya SEORANG PANDITA TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN SARANA APAPUN DALAM BERUPACARA atau setidaknya sanggup untuk menyelesaikan upacara apapun hanya dengan banten sebiji buah, setangkai bunga, sehelai daun sebagaimana dijelaskan secara rinci oleh Shri Krishna di Bhagavadgita IX.26, yang mau versi manapun terjemahannya akan mengatakan kurang lebih “cukup dengan sebiji buah, seteguk air, setangkai bunga atau sehelai daun sebagai persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Inilah yang membutuhkan kajian-kajian di lembaga terhormat kita PHDI kedepannya, agar para pemuka agama kita MENGAPLIKASIKAN SASTRA AGAMA yang dikuasainya dengan baik di lapangan. Jangan lagi menolak muput upacara BANTEN KANISTA bila perlu sosialisasikan tanpa henti.

Ida Shri memberi saran, lebih baik uangnya dimanfaatkan untuk peningkatan SDM Hindu dan menjangkau umat-umat Hindu di pedalaman yang selama ini jarang tersentuh karena terkendala anggaran/biaya. Mari pergunakan uangnya untuk membuka kelas-kelas Bahasa Sanskrta agar generasi muda berikutnya melek bahasa Veda, tidak hanya bisa menguncarkan mantra dan membaca sloka akan tetapi memahami maknanya dengan benar.

“Mari kita pergunakan uangnya untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan ekonomi kerakyatan berbasis desa adat, karena lagi-lagi FAKTANYA saat ini ekonomi Bali utamanya UMKMnya dikuasai oleh non Hindu. Orang-orang non Hindu meminjam uang di Bank untuk modal usaha untuk menguasai ekonomi Bali sementara orang-orang Hindu meminjam uang di bank untuk upacara menegakkan dresta”, sambungnya.

Lanjutnya, kami sesungguhnya tidak alergi dengan upacara besar, bahkan senang dan bahagia, asalkan dilaksanakan oleh umat yang memiliki dana berlebih. Bahkan oleh sebuah catatan indah dari Sugi Lanus bahwa upacara besar dari masa lampau umumnya hanya dilaksanakan oleh para RAJA, namun sekarang rakyat kecilpun rela berhutang demi melaksanakan upacara besar yang biasanya dilakukan oleh seorang raja.

Pihaknya tidak mau memperkeruh polemik yang ada, yang entah ini semua karena politik, kebangkitan feodalisme gaya baru, atau yang lainnya.

Sebenarnya kami berusaha untuk lebih banyak diam dan menarik diri dari diskusi-diskusi di medsos yang sudah sangat keterlaluan buruknya, sangat jauh melenceng dari manusia beragama yang beradab.

” Tak lupa kami mohon maaf yang sebesar-besarnyanya bila mesti mengungkapkan FAKTA yang barangkali menyakitkan, namun percayalah kita butuh SAKIT untuk bisa BERUBAH lebih baik, sebagaimana ulat bersakit sakit dahulu dalam kepompong untuk kemudian bertransformasi menjadi kupu-kupu yang indah,” tandasnya.

(A.A.Md Sudarsana/071)

 

  • Penulis: Admin

Rekomendasi Untuk Anda

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Denpasar, Kamis  13  Agustus  2020

  • Renungan  JOGER

    Renungan  JOGER

    • calendar_month Senin, 2 Nov 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Bali, Selasa  03  November  2020   Renungan  JOGER  

  • Renungan  Joger

    Renungan  Joger

    • calendar_month Kamis, 14 Mar 2024
    • account_circle Admin
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Bali, Jumat  15  Maret  2024 Renungan  Joger  

  • PT. Pegadaian Kanwil VII Denpasar gelar Panggung Emas Ramadan 2024

    PT. Pegadaian Kanwil VII Denpasar gelar Panggung Emas Ramadan 2024

    • calendar_month Senin, 1 Apr 2024
    • account_circle Admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Denpasar, Senin  01  April  2024 PT. Pegadaian Kanwil VII Denpasar gelar Panggung Emas Ramadan 2024     Bali,  indonesiaexpose.co.id   – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1445 H dan menyambut Hari Ulang Tahun Pegadaian yang ke-123, Pegadaian hadir dengan Festival Ramadan Pegadaian Tahun 2024 yang dilaksanakan di seluruh Kantor Wilayah dengan periode sepanjang bulan Ramadan. […]

  • Renungan  JOGER

    Renungan  JOGER

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2020
    • account_circle Admin
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Bali, Kamis  9  Juli  2020   Renungan  JOGER  

  • Serangkaian D’youth Festival, Teruna Teruni Denpasar Gelar Lomba Pakian Adat Ke Pura

    Serangkaian D’youth Festival, Teruna Teruni Denpasar Gelar Lomba Pakian Adat Ke Pura

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2021
    • account_circle Admin
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Denpasar, Jumat 29 Oktober 2021   Serangkaian D’youth Festival, Teruna Teruni Denpasar Gelar Lomba Pakian Adat Ke Pura       Bali,  indonesiaexpose.co.id  –  Dalam rangka membangkitkan semangat generasi muda untuk ikut melestarikan seni dan budaya Bali. Teruna Teruni Denpasar bersama Dinas Pariwisata Kota Denpasar, menggelar Lomba Busana Adat Ke Pura, dimana kegiatan ini di […]

expand_less