Bali Dorong Nyepi Jadi Warisan Dunia UNESCO, Langkah Strategis Resmi Dimulai
- account_circle 071
- calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
- visibility 168
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Selasa 05 Mei 2026
Bali Dorong Nyepi Jadi Warisan Dunia UNESCO, Langkah Strategis Resmi Dimulai

Bali, indonesiaexpose.co.id — Upaya menjadikan Hari Suci Nyepi sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia memasuki babak penting. Rapat strategis digelar pada Senin (27/4/2026) di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menandai keseriusan berbagai pihak dalam mendorong pengakuan internasional dari UNESCO.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, membuka pertemuan dengan menegaskan pentingnya langkah ini sebagai bagian dari pelestarian identitas budaya Bali di kancah global.
Ketua DPD Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali, Sayoga, menekankan bahwa Nyepi bukan sekadar tradisi lokal, tetapi warisan leluhur yang memiliki dampak global, terutama dalam aspek lingkungan dan kemanusiaan.
Senada dengan itu, Giri Prayoga dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali mengingatkan bahwa keberhasilan pengusulan ini bergantung pada kesepakatan seluruh elemen masyarakat Bali.
Penasihat Prajaniti Bali, I Made Donder, menyoroti makna filosofis Nyepi sebagai momentum refleksi hubungan manusia dengan semesta, sekaligus bentuk “healing” bagi Bumi sebagai Ibu Pertiwi.
Dari sisi kelembagaan, Putu Wirata Dwikora menyatakan bahwa usulan ini akan segera dibahas lebih lanjut melalui pesamuan Sabha Pandita di lingkungan PHDI.
Langkah konkret juga dipaparkan oleh I Made Bandem, yang telah berkomunikasi dengan Kementerian Kebudayaan. Ia menegaskan bahwa pengusulan ke UNESCO harus memenuhi berbagai aspek penting, mulai dari nilai religius, spiritual, ekologis, hingga potensi ekonomi kreatif.
Sebagai penutup, Ida Ayu Tary Puspa mengingatkan bahwa sejak 2023, Nyepi telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional—menjadi landasan kuat untuk melangkah ke tingkat global.
Dalam dokumen resmi yang telah dikirim Prajaniti Bali kepada Menteri Kebudayaan pada 25 Maret 2026, ditegaskan bahwa Nyepi mengandung filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Praktik ini dinilai tidak hanya menjaga keseimbangan spiritual, tetapi juga terbukti memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan.
Seluruh peserta rapat, termasuk perwakilan Majelis Desa Adat dan Majelis Kebudayaan Bali, menyatakan dukungan penuh. Konsensus ini memperkuat langkah Bali dalam membawa Nyepi dari tradisi lokal menjadi warisan nilai global.
Nyepi kini bukan sekadar hari suci—tetapi kandidat kuat warisan dunia.
(071)
- Penulis: 071
- Editor: putri
- Sumber: tim Index
