Sunday , January 26 2020
Home / Bali / Br. Bun Denpasar Kembali Bangkitkan Sang Hyang Jaran

Br. Bun Denpasar Kembali Bangkitkan Sang Hyang Jaran

Denpasar, Selasa  14  januari  2020

 

Br. Bun Denpasar Kembali Bangkitkan Sang Hyang Jaran

 

BALI,  INDEX  – Kota Denpasar memiliki berbagai kebudayaan dan tarian yang sangat sakral di Denpasar. Salah satunya adalah Layangan Jangan yang sudah ada pada dokumentasi Banjar Bun pada tahun 1915. Sepuluh tahun sebelum Layangan Jangan ternyata sudah ada Sang Hyang Jaran yakni tepatnya pada tahun 1905. Namun saat ini tidak ada pragina dari Sang Hyang Jaran. Maka Banjar Bun membuat Sang Hyang Jaran baru untuk anak-anak.

Ketua Panitia Mangku Wayan Sugiana mengatakan, dalam sejarah tercatat yang membuat pertama kali Sang Hyang Jaran adalah Jero Mangku Selonog.

Mangku Selonog memberikan kepada anaknya yang bernama Made Ampug selaku pemangku pertama dari Sang Hyang Jaran.
Karena sebagai pemangku di Pura Natih, Made Ampug fokus dipura sehingga, tugasnya diberikan kepada adiknya yakni Jro Mangku Ketut Jambot.

Jro Mangku Ketut Jambot terus meneruskan mengemban tugasnya sebagai Jero Mangku Sang Hyang Jaran sampai tahun 1995. Dan diganti yang bukan keturunannya yakni Mangku Ketut Parka. Sekarang ini yang menjadi pemangku adalah Mangku Gede Antara merupakan keturunan generasi kelima dari mangku Selonog sampai sekarang.

“Karena preginanya yang dulu sudah tua warga Br. Bun membuat Sang Hyang Jaran yang baru untuk anak anak,” ungkap Mangku Wayan Sugiana saat audensi dengan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra di Kantor Walikota Denpasar Senin (13/1/2020).

Ia mengatakan proses pembuatan telah berlangsung sejak tanggal 4 Oktober 2019 dan akan disolahkan pada tanggal 15 Januari mendatang. Menurut Mangku Sugiana dalam proses upacara pesolahan pihaknya berharap Walikota bisa hadir dan menyaksikannya. Mengingat Sang Hyang Jaran di Br. Bun berbeda dengan yang ada ditempat lain. Karena Sang Hyang Jaran yang ada di Banjar Bun adalah Sang Hyang Jaran yang sakral dan tidak dipertonton kan seperti yang lainnya. Bahkan Sang Hyang Jaran ini yang dipakai mesiram ini adalah api dari batok kelapa dan bukan api sambuk.

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra memberikan apresiasi kepada Br. Bun karena telah melestarikan warisan kebudayaan dan taksu Bali. Menurutnya tari sakral harus dilestarikan dan tercatat sebagai warisan budaya Denpasar.Tidak hanya Seni dan ritual yang ada harus dijaga dengan
Satyam Siwam Sundaram.Satyam artinya kebenaran Siwam artinya kebersihan, kesucian, kemuliaan
Sundaram artinya keindahan, kecantikan, keharmonisan.

“Menjalankan dengan hal ini niscara diberikan kerahayuan kepada umat semua,”tutupnya.

(070)

Check Also

Renungan  JOGER

Bali, Senin 27  Januari  2020   Renungan  JOGER  

Komisaris Besar Polisi  Sugeng  Hariyanto, S.IK,M.Hum

Jakarta , Minggu  26  Januari  2020   Komisaris Besar Polisi  Sugeng  Hariyanto, S.IK,M.Hum   JAKARTA,  …