Tri Hita Karana Mulai Ditinggalkan, Guru Besar Unud Warning Arah Pembangunan Bali
- account_circle 080
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Kamis 11 Juni 2026
Tri Hita Karana Mulai Ditinggalkan, Guru Besar Unud Warning Arah Pembangunan Bali
Bali, indonesiaexpose.co.id — Bali dalam Bahaya? Akademisi Ungkap Ancaman terhadap Laut, Budaya, dan Ruang Hidup Masyarakat.Guru Besar Unud Soroti Tata Ruang Bali, Ingatkan Ancaman Hilangnya Ruang Hidup Generasi Mendatang.
Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi tata ruang dan arah pembangunan di Bali yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai dasar masyarakat Bali.
Menurut Prof. Rumawan Salain, pembangunan yang berlangsung saat ini harus kembali berpijak pada filosofi Tri Hita Karana, yakni harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Ia mengingatkan, jika pembangunan terus berjalan tanpa kendali dan mengabaikan keseimbangan lingkungan serta budaya, maka generasi mendatang berpotensi kehilangan warisan berharga yang selama ini menjadi identitas Pulau Dewata.
“Jangan sampai anak cucu kita nanti tidak lagi bisa menikmati laut yang bersih, lingkungan yang lestari, maupun budaya Bali yang menjadi kebanggaan dunia. Saat ini kita melihat adanya gejala pembangunan yang mulai menyimpang dari semangat Tri Hita Karana,” tegasnya.
Ia menilai, berbagai persoalan tata ruang yang muncul belakangan menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan Bali. Tidak hanya soal fisik dan investasi, pembangunan juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, keberlanjutan budaya, serta kepentingan masyarakat lokal sebagai pemilik ruang hidup.
Lebih jauh, Prof. Rumawan Salain menyoroti mulai tergerusnya nilai menyama braya, konsep persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Bali. Menurutnya, pembangunan yang tidak berpihak pada kepentingan bersama berpotensi memunculkan kesenjangan sosial dan konflik ruang yang pada akhirnya merugikan masyarakat.
“Semangat menyama braya harus tetap menjadi roh dalam setiap kebijakan pembangunan. Bali tidak boleh hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” ujarnya Prof. Rumawan Salain saat audiensi Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) di Wantilan DPRD Bali di Renon, Denpasar, Rabu siang (3/6/2026).
Pernyataan Guru Besar Unud tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan Bali tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi dan investasi, melainkan juga harus menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan, perlindungan budaya, serta kesejahteraan masyarakat. Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan di berbagai kawasan strategis, suara akademisi dinilai penting untuk memastikan arah pembangunan Bali tetap sejalan dengan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para leluhur.
Sejumlah kalangan menilai, peringatan tersebut relevan dengan berbagai dinamika tata ruang yang tengah menjadi perhatian publik. Evaluasi terhadap kebijakan pembangunan yang berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat, kawasan pesisir, serta keberlanjutan budaya Bali dinilai menjadi langkah penting agar Pulau Dewata tetap lestari dan berdaya saing tanpa kehilangan jati dirinya.
(080)
- Penulis: 080
- Editor: Siregar
- Sumber: tim Index
