DPRD Bali Soroti Potensi Benturan Nyepi dan Malam Takbiran, Minta Atensi Nasional
- account_circle 080
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Jumat 13 Maret 2026
DPRD Bali Soroti Potensi Benturan Nyepi dan Malam Takbiran, Minta Atensi Nasional

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali I Wayan Tagel Winarta
Bali, indonesiaexpose.co.id — Menjelang dua momentum besar keagamaan, Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, DPRD Provinsi Bali melalui Komisi I menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna membahas kesiapan pengamanan dan ketertiban masyarakat di Bali, bertempat di di Ruang Rapat Gabungan Lantai III Gedung DPRD Bali, Denpasar, Kamis, 12 Maret 2026 pukul 10.00 WITA.
RDP tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD Provinsi Bali, mengingat dua hari besar keagamaan itu berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat serta aktivitas sosial di wilayah Bali.
Turut hadir dalam RDP diantaranya :
- Pimpinan DPRD Bali
- Anggota Komisi I
- Komisi IV DPRD Bali
- Perwakilan Polda Bali
- Kapolres se-Bali
- Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali
- Satpol PP Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota.
- Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Bali
- Dinas Pemajuan Masyarakat Adat, Majelis Desa Adat (MDA)
- Pecalang Provinsi Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali
- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
- Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali
- Tim Ahli Komisi I DPRD Bali.
Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali I Wayan Tagel Winarta menegaskan, isu yang dibahas sangat krusial, terutama karena kemungkinan bertepatan antara Malam Takbiran dengan pelaksanaan Hari Raya Nyepi.
“Pembahasan terkait hal ini seharusnya diperkuat melalui forum diskusi yang lebih intensif, seperti Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan FKUB, MDA, maupun PHDI.Artinya betul diatensi khusus urusan ini, karena malam takbiran dengan Hari Raya Nyepi ini berbeda,” ungkap Tagel Winarta.
Tagel Winarta juga berharap pelaksanaan Malam Takbiran dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan pada 20 Maret 2026 agar tidak bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Tagel Winarta menilai pertemuan dua momentum keagamaan ini juga berpotensi menjadi perhatian publik, termasuk di media sosial, sehingga perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Hari Raya Nyepi merupakan tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Bali.
“Kalau bisa dari 38 provinsi, Pak, mohon izin, Pak, entah itu siapa yang berpotensi, siapa punya kemampuan, mudah-mudahan, Malam Takbiran ini bisa dilaksanakan di tanggal 21 Maret atau tanggal 20 Maret, lantaran tanggal 19 Maret betul-betul Hari Raya Nyepi itu bisa dilaksanakan, tidak ada lagi di tempat lainnya,” kata Tagel Winarta.
Lanjudnya, Bali merupakan satu-satunya daerah yang melaksanakan Nyepi secara menyeluruh, sehingga keagungan dan kesakralannya perlu dijaga bersama.
Selain itu, Tagel Winarta juga meminta agar pembahasan lebih lanjut dilakukan melalui diskusi dan koordinasi intensif antar tokoh agama serta lembaga terkait, mengingat perkembangan teknologi informasi yang kerap memicu berbagai respons di ruang publik.
Tagel Winarta juga berharap seluruh pihak dapat memberikan perhatian khusus agar perayaan Nyepi tetap berlangsung khidmat tanpa mengurangi semangat toleransi antarumat beragama di Bali.
“Kenapa? Bali apa yang bisa diagungkan? Dari 38 provinsi, kami minta di Bali menjadi atensi, sedangkan dari 37 silahkan dilaksanakan sesuai kerukunan. Karena kami bisa doakan Bali dari upacara yang kita betul-betul pahami bersama,” terangnya.
Tagel Winarta juga menyoroti pentingnya peran tokoh agama dan para penglingsir dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait tata aturan keagamaan yang berlaku.
Apabila Malam Takbiran tetap berlangsung bertepatan dengan Nyepi, Tagel Winarta menekankan pentingnya sikap saling menghormati antar umat beragama.
“Jika malam itu masih Hari Raya Nyepi berbarengan dengan Malam Takbiran, tadi PHDI Bali sudah menyampaikan, baik dari Muhammadiyah, NU dan lainnya sudah disampaikan seruannya kepada umatnya untuk melaksanakan Malam Takbiran di rumah masing-masing. Nah, sekarang ini tolong ditegaskan, Pak, seandainya itu terjadi, maka sama-sama menghormati,” paparnya.
Tagel Winarta juga mengajak seluruh tokoh agama di Bali untuk terus memperkuat koordinasi demi menjaga keharmonisan dan keunikan budaya Bali.
“Silahkan lobby. Silahkan koordinasi. Dengan demikian, rapat ini penting bagi kami di Dewan, untuk menjadikan sebuah renungan bersama agar masyarakat Bali paham bahwa lembaga ini tidak diam, para tokoh-tokoh tidak diam dan semua mencari solusi yang terbaik untuk keajegan Bali dan negara Indonesia,” pungkasnya.
(080)
- Penulis: 080
- Editor: putri
- Sumber: tim Index
